|
7/02/2007
PENDETAKU SEPERTI SUPERMAN !!! (1)
(Yohanes 1:6-8)
Bila ada salah paham dan perbedaan pendapat karena pertimbangan yang benar dan jujur- secara khusus dengan jemaat yang disegani, ia merasa tekanan atas posisinya semakin terjepit. Ketidakmampuan menyenangkan setiap orang yang paling dikasihinya, dan kekecewaan karena ditentang oleh mereka yang diharapkan menjadi tempat bersandar dan memberi dukungan moral, membuat seorang pendeta hampir menyerah karena putus asa. Keterbatasannya untuk membela seorang jemaat yang mengangap diri benar kadang kala juga membuat jemaat menjadi kurang respek terhadap hamba Tuhan tersebut.
Rekan kerja yang saling menyikut, saling iri, membuat pendeta menjadi kurang betah di tempat pelayanannya. Perhatian dan pengertian jemaat yang kurang juga sering membuat pendeta merasa gelisah dan ingin secepatnya pindah ladang. Biasanya dengan berbagai alasan yang nadanya cukup rohani: misalnya: "Rasanya tempat ini bukan tempat pelayanan kami untuk seterusnya", "Saya terpanggil untuk melayani di kota anu" atau dengan alasan " Ingin studi lanjut", "beban saya ke gereja anu"
Sangat sedih untuk diungkapkan, dibanyak gereja, seorang pendeta kelihatannya selalu tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan benar. Jemaat biasanya tidak pernah peduli betapa sungguh-sungguh atau kerasnya pendeta itu telah berjuang dan berusaha, namun ada saja orang yang mencari kesalahan dan mengkritik sesuka-hatinya.
Seseorang menggambarkan pendeta demikian:
Penggambaran di atas memang agak berlebihan, tetapi ungkapan ini benar-benar telah terjadi di banyak tempat. Saya berharap di gereja anda masalah ini tidak ada. Nah inilah sekilas liku-liku kehidupan seorang pendeta, dan anggota jemaat perlu mengetahuinya hal ini.
Rasul Yohanes menulis :
Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes, ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.(Yohanes 1:6-8). Ada tiga hal yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas mengenai Yohanes Pembaptis sebagai seorang hamba Tuhan atau pendeta. Lalu bagaimana degan Pendetaku? Mari kita lihat bersama-sama :
I. Pendetaku itu manusia biasa
Pertama kita diberitahu bahwa "datanglah seorang." Ia seorang manusia, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan seperti halnya orang lain. Yohanes Pembaptis bukan malaikat; ia bukan ciptaan Tuhan yang secara khusus yang adikodrati; ia bukan duta dengan tubuh seperti "Super Man atau Hercules. Tetapi ia manusia biasa seperti kita ini, percis sama seperti anda dan saya.
Yohanes Pembaptis tampil sangat sederhana, ia memakai jubah bulu Unta dan ikat pinggang dari kulit. Suatu busana yang pada zamannya termasuk busana yang kasar dan dipakai oleh masyarakat bawahan atau orang-orang miskin. Ia benar-benar orang biasa.
Jikalau jemaat gereja bisa mempunyai masalah, hamba Tuhan juga. Jikalau jemaat merasa menderita akibat krisis moneter, harga beras tembus naik, minyak goreng, belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain., maka pendeta juga bisa merasakan demikian. Masalahnya adalah seberapa besar penyerahan kita kepada Tuhan, ia akan menjadi kuat jikalau penyerahannya kepada Tuhan juga secara menyeluruh. Yohanes mengatakan ia manusia biasa yang dipercayakan pekerjaan yang luar biasa.
Terhadap manusia biasa ini ia dituntut hal-hal yang sungguh luar biasa; misalnya: pendeta diharapkan memiliki diri seperti “Manusia super” atau “Super Man “ yakni :
-Ia harus seorang yang pandai berbicara
-Ia harus seorang yang mengerti bahasa Inggris, supaya ketika mempersiapkan khotbah banyak "teks book" yang bisa dia baca.
-Ia harus seorang yang mengerti Mandarin, terutama mereka yang melayani di gereja berbahasa Mandarin.
-Ia harus fasih berbicara dalam bahasa Indonesia supaya kaum muda dapat merasa tertarik dan mengerti khotbahnya.
-Ia harus seorang yang mendalami Alkitab dengan sungguh-sungguh.
-Ia harus seorang penginjil yang penuh semangat
-Ia harus seorang penginjil yang penuh kasih
-Ia harus memiliki kebijaksanaan seperti Raja Salomo
-Ia harus memiliki kepribadian yang menarik dan dan enak dipandang, supaya kalau khotbahnya membuat ngantuk, jemaat masih terhibur melihat kecantikan dan ketampanan hamba Tuhannya.
-Ia harus seorang usahawan yang cerdik dan administrator yang efektif dan efisien.
-Ia harus seorang ahli strategi ekonomi, supaya dengan dana seminim mungkin dapat melaksanakan proyek-proyek sebesar mungkin.
-Ia harus seorang yang kreatif dan orisinal.
-Ia harus seorang yang tegas, disiplin, tetapi juga sekaligus harus elastis seperti karet
Daftar ini masih bisa kita perpanjang. Sungguh malang nasib pendeta, ia selalu gagal memenuhi keinginan dan tuntutan jemaat. Itulah sebabnya tidaklah heran banyak jemaat yang menggurutu demikian:
"Oh, pendeta kami khotbahnya sangat bagus, tetapi panjangnya bukan main"
"Oh, pendeta. kami cocok buat kaum usiawan, tetapi buat kaum muda tidak"
"Oh, pendeta kami pelayanannya sih bagus, cuma sayang isterinya.........."
Dalam sebuah artikel yang berjudul "Kualifikasi Seorang Pendeta yang Baik" di situ digariskan berbagai tuntutan yang kadang kala tidak masuk akal untuk pundak seorang pendeta.
Seorang pendeta yang baik harus memiki:
Kekuatan seekor Rubah,
Kegigihan seekor Buldog,
Keberanian seekor Singa,
Kebijaksanaan seekor Burung hantu,
Ketulusan seekor Merpati,
Kelembutan seekor Domba,
Kecerdikan seekor Bunglon,
Pandangan seekor Rajawali,
kulit seekor kuda Nil,
Lompatan seekor Kanguru,
Perut seekor Kuda,
Watak seorang Malaikat,
Kesetiaan seorang Rasul,
Kepatuhan seorang Nabi,
Kelemah-lembutan seorang Gembala,
Semangat seorang Penginjil,
Pegabdian seorang Ibu,
dan jikalau semua tuntutan ini telah dipenuhi pun ia masih tidak dapat menyenangkan hati setiap orang.
Pasti ada juga yang berkata, "Oh dia baik, tetapi................." (ekor-ekornya negatif). Pendeta tidak mungkin pandai dalam segala hal, ia pernah gagal dan memiliki kekurangan. Namun Allah merasa pas memakai seorang manusia. Dengan demikian, marilah kita berdoa buat para pendeta., bukan selalu mengritiknya. Namun, jikalau anda tidak dapat menahan diri melihat kesalahannya dan anda harus berbicara pada orang lain, ungkapkanlah hal itu semua kepada Allah. Jika hari ini di dunia ada orang yang sangat butuh dukungan doa dari jemaat, maka orang itu adalah pendeta. Sudahkah kita berdoa untuknya?? (1 Tesalonika 2:25 "Saudara-saudara, doakanlah kami")
(bersambung...)
| « back |





F A Q

