Visi Christian Bookstore
USER LOGIN
BENEFITS
  1. Semua produk diskon sampai 30%
  2. Gratis ongkos kirim untuk pengiriman ke wilayah Kota Bandung (kecuali Cimahi)
  3. Jaminan uang kembali
SERVICES
  1. Jika Produk tidak tersedia, silahkan pesan melalui email ke webadmin@visi-
    bookstore.com
  2. Pesanan via telp / sms hubungi : 081321007070
TESTIMONIAL
  • Jani Hutagalung (Penyanyi Rohani,Bank Lippo Cab. Melawai)

    "Puji Tuhan, .... Suasana yg hangat dan ramah tersirat dari setiap pelayanan Toko Buku Rohani ini, Tuhan Yesus Memberkati"
  • Johanes "Joe-Nazareth" Octavianus (Penyiar & Account Executive Radio Maestro)

    "Tokonya keren abis, buku-bukunya lengkap, VCD Importnya mantap. Butuh apalagi, pokoknya semua keperluan rohani kita terpenuhi disini. Ngga rugi dech!"
  • Mawar Simorangkir (Penyanyi Rohani)

    "Cukup baik & penataan tokonya bagus,SUKSES!"
Seri PA Remaja - Bintang
Seri KK Pemuda - Mentari
Cahaya Bagi Negeri Indonesia
zondervan
Promote Your Banner Here
ARTICLES
Author : Saumiman Saud
Email : saumiman@gmail.com
Pendeta Gereja Injili Indonesia, San Jose (USA). Penulis buku : Pendetaku Dipuji dan Dicaci terbitan Kairos-Jogyakarta, Di balik topeng org percaya.

7/03/2007

PENDETAKU SEPERTI SUPERMAN !!! (1)

(Yohanes 1:6-8)

Pendeta atau Hamba Tuhan (Chuan Tao atau Boksu), demikian sebutan yang sering kita tujukan buat seseorang yang dipanggil untuk melayani purnah waktu. Sebagai orang Kristen yang lahir baru, pastilah kita menghormati dan menghargai mereka.  Pendeta tidak hanya dituntut berkhotbah, tetapi juga harus melayani kebutuhan dan masalah jemaat, serta tugas-tugas administrasi gereja yang sangat menguras banyak tenaga dan pikirannya, sehingga kadang kala terjadi kelelahan fisik dan ketegangan syaraf yang dapat mengakibatkan hubungan dengan jemaat kurang harmonis. Bahkan hubungan dengan isteri dan anak-anak juga demikian.

    Bila ada salah paham dan perbedaan pendapat karena pertimbangan yang benar dan jujur- secara khusus dengan jemaat yang disegani, ia merasa tekanan atas posisinya semakin terjepit. Ketidakmampuan menyenangkan  setiap orang yang paling dikasihinya, dan kekecewaan karena ditentang oleh mereka yang diharapkan menjadi tempat bersandar dan memberi dukungan moral, membuat seorang pendeta hampir menyerah karena putus asa. Keterbatasannya untuk membela seorang jemaat yang mengangap diri benar kadang kala juga membuat jemaat menjadi kurang respek terhadap hamba Tuhan tersebut.

    Rekan kerja yang saling menyikut, saling iri, membuat pendeta menjadi kurang betah di tempat pelayanannya. Perhatian dan pengertian jemaat yang kurang juga sering  membuat pendeta merasa gelisah dan ingin secepatnya pindah ladang. Biasanya dengan berbagai alasan yang nadanya cukup rohani: misalnya:  "Rasanya tempat ini bukan tempat pelayanan kami untuk seterusnya", "Saya terpanggil untuk melayani di kota anu" atau  dengan alasan " Ingin studi lanjut", "beban saya ke gereja anu"

    Sangat sedih untuk diungkapkan, dibanyak gereja, seorang pendeta kelihatannya selalu tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan benar. Jemaat biasanya tidak pernah peduli betapa sungguh-sungguh atau kerasnya pendeta itu telah berjuang dan berusaha, namun ada saja orang yang mencari kesalahan dan mengkritik sesuka-hatinya.

    Seseorang menggambarkan pendeta demikian:
* Jika ia kurus, ia dianggap kurang Gizi atau Vitamin, namun jika ia gemuk ia dianggap pemboros Sembako.
* Jika ia berusia muda, ia dianggap kurang berpengalaman; namun jika rambutnya telah memutih, ia dianggap terlalu tua bagi kaum muda.
* Jika ia dikaruniai lima atau enam anak, ia dianggap tidak tahu diri; namun jika ia tidak punya anak, ia dianggap memberi teladan yang buruk.
* Jika ia berkhotbah dengan catatan, maka dicap kurang persiapan namun jika ia tidak memakai catatan ia dianggap tidak persiapan.
* Jika ia melayani orang-orang miskin di gereja, ia dianggap pamer; namun jika ia menaruh perhatian pada orang kaya, ia dianggap berusaha menjadi seorang aristokrat.
* Jika ia memakai terlalu banyak Ilustrasi dalam khotbahnya, ia dianggap mengabaikan Alkitab; namun jika ia tidak memasukkan kisah nyata dalam khotbahnya, maka jemaat akan bingung dan tidak mengerti.
* Jikalau khotbahnya terlalu pendek, ia dianggap kurang menggali firmanTuhan, namun kalau khotbahnya terlalu panjang maka disebut film India.
* Jika ia mencela kesalahan, ia dianggap cepat marah; namun jika ia tidak berkhotbah menentang dosa, ia dianggap kompromi.
* Jika ia mengkhotbahkan kebenaran, ia dianggap terlalu menyerang; namun jika ia tidak menyampaikan "Seluruh Kebenaran Allah", ia dianggap munafik.
* Jika ia gagal menyenangkan hati setiap orang ia dianggap melukai gereja dan harus pergi, namun jika ia membuat semua orang bahagia, ia dianggap tidak berpendirian.
* Jika ia mengendarai mobil tua, ia dianggap mempermalukan jemaat; namun jika ia membeli mobil baru, ia dianggap menunjukkan kecintaannya pada harta dunia.
* Jika ia terus menerus berkhotbah maka jemaat akan bosan mendengarnya, namun jika ia mengundang pembicara tamu, ia dianggap menghindari tanggung jawab.
* Jika ia menerima gaji yang besar, ia dianggap mata duitan; namun jika ia mendapat gaji yang kecil, mereka mengatakan bahwa ia memang layak mendapat segitu; soalnya persembahan di gereja kita belum bertambah.

    Penggambaran di atas memang agak berlebihan, tetapi ungkapan ini benar-benar telah terjadi di banyak tempat. Saya berharap di gereja anda masalah ini tidak ada. Nah inilah sekilas liku-liku kehidupan seorang pendeta, dan anggota jemaat perlu mengetahuinya hal ini.

    Rasul Yohanes menulis :

    Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes, ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.(Yohanes 1:6-8). Ada tiga hal yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas mengenai Yohanes Pembaptis sebagai seorang hamba Tuhan atau pendeta. Lalu bagaimana degan Pendetaku? Mari kita lihat bersama-sama :
   
    I. Pendetaku itu manusia biasa

    Pertama kita diberitahu bahwa "datanglah seorang." Ia seorang manusia, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan seperti halnya orang lain. Yohanes Pembaptis bukan malaikat; ia bukan ciptaan Tuhan yang secara khusus yang adikodrati; ia bukan duta dengan tubuh seperti "Super Man atau Hercules. Tetapi ia manusia biasa seperti kita ini, percis sama seperti anda dan saya.
   
    Yohanes Pembaptis tampil sangat sederhana, ia memakai jubah bulu Unta dan ikat pinggang dari kulit. Suatu busana yang pada zamannya termasuk busana yang kasar dan dipakai oleh masyarakat bawahan atau orang-orang miskin. Ia benar-benar orang biasa.
   
    Jikalau jemaat gereja bisa mempunyai masalah, hamba Tuhan juga. Jikalau jemaat merasa menderita akibat krisis moneter, harga beras tembus naik, minyak goreng, belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain., maka pendeta juga bisa merasakan demikian. Masalahnya adalah seberapa besar penyerahan kita kepada Tuhan, ia akan menjadi kuat jikalau penyerahannya kepada Tuhan juga secara menyeluruh. Yohanes mengatakan ia manusia biasa yang dipercayakan pekerjaan yang luar biasa.

    Terhadap manusia biasa ini ia dituntut hal-hal yang sungguh luar biasa; misalnya: pendeta diharapkan memiliki diri seperti “Manusia super” atau “Super Man “ yakni :
    -Ia harus seorang yang pandai berbicara
    -Ia harus seorang yang mengerti bahasa Inggris, supaya ketika mempersiapkan khotbah banyak "teks book" yang bisa dia baca.
    -Ia harus seorang yang mengerti Mandarin, terutama mereka yang melayani di gereja berbahasa Mandarin.
    -Ia harus fasih berbicara dalam bahasa Indonesia supaya kaum muda dapat merasa tertarik dan mengerti khotbahnya.
    -Ia harus seorang yang mendalami Alkitab dengan sungguh-sungguh.
    -Ia harus seorang penginjil yang penuh semangat
    -Ia harus seorang penginjil yang penuh kasih
    -Ia harus memiliki kebijaksanaan seperti Raja Salomo
    -Ia harus memiliki kepribadian yang menarik dan dan enak dipandang, supaya kalau khotbahnya membuat ngantuk, jemaat masih terhibur melihat kecantikan dan ketampanan hamba Tuhannya.
    -Ia harus seorang usahawan yang cerdik dan administrator yang efektif dan efisien.
    -Ia harus seorang ahli strategi ekonomi, supaya dengan dana seminim mungkin dapat melaksanakan proyek-proyek sebesar mungkin.
    -Ia harus seorang yang kreatif dan orisinal.
    -Ia harus seorang yang tegas, disiplin, tetapi juga sekaligus harus elastis seperti karet

    Daftar ini masih bisa kita perpanjang. Sungguh malang nasib pendeta, ia selalu gagal memenuhi keinginan dan tuntutan jemaat. Itulah sebabnya tidaklah heran banyak jemaat yang menggurutu demikian:
    "Oh, pendeta kami khotbahnya sangat bagus, tetapi panjangnya bukan main"
    "Oh, pendeta. kami cocok buat kaum usiawan, tetapi buat kaum muda tidak"
    "Oh, pendeta kami pelayanannya sih bagus, cuma sayang isterinya.........."
   
    Dalam sebuah artikel yang berjudul "Kualifikasi Seorang Pendeta yang Baik" di situ digariskan berbagai tuntutan yang kadang kala tidak masuk akal untuk pundak seorang pendeta.

Seorang pendeta yang baik harus memiki:
    Kekuatan seekor Rubah,
    Kegigihan seekor Buldog,
    Keberanian seekor Singa,
    Kebijaksanaan seekor Burung hantu,
    Ketulusan seekor Merpati,
    Kelembutan seekor Domba,
    Kecerdikan seekor Bunglon,
    Pandangan seekor Rajawali,
    kulit seekor kuda Nil,
    Lompatan seekor Kanguru,
    Perut seekor Kuda,
    Watak seorang Malaikat,
    Kesetiaan seorang Rasul,
    Kepatuhan seorang Nabi,
    Kelemah-lembutan seorang Gembala,
    Semangat seorang Penginjil,
    Pegabdian seorang Ibu,
    dan jikalau semua tuntutan ini telah dipenuhi pun ia masih tidak dapat menyenangkan hati setiap orang.

    Pasti ada juga yang berkata, "Oh dia baik, tetapi................." (ekor-ekornya negatif).  Pendeta tidak mungkin pandai dalam segala hal, ia pernah gagal dan memiliki kekurangan. Namun Allah merasa pas memakai seorang manusia. Dengan demikian, marilah kita berdoa buat para pendeta., bukan selalu mengritiknya. Namun, jikalau anda tidak dapat menahan diri melihat kesalahannya dan anda harus berbicara pada orang lain, ungkapkanlah hal itu semua kepada Allah. Jika hari ini di dunia ada orang yang sangat butuh dukungan doa dari jemaat, maka orang itu adalah pendeta. Sudahkah kita berdoa untuknya?? (1 Tesalonika 2:25 "Saudara-saudara, doakanlah kami")

(bersambung...)

« back